Photo by Sean Sinclair on Unsplash (elah, panjang bener judulnya... 😂) Jujur. Ngomongin soal kejujuran, gue gak inget udah berapa kali ngerasa terluka, insecure, dan hati perih akibat melakukan hal ini: menyatakan kejujuran. Apalagi di tengah-tengah dunia yang penuh tuntutan ini yekan, menjadi jujur itu menjadi tantangan tersendiri buat gue. Kenapa sih harus jujur di saat kita bisa bersandiwara? Kenapa harus milih jujur di saat bohong itu jauh lebih aman dan gak nyakitin? Ini pertanyaan pribadi yang sempat gue tanyakan pada diri sendiri. Untuk apa ya gue jadi diri gue yang apa adanya di kala mungkin dunia tidak akan terima itu? Untuk apa gue menjadi Meista yang otentik dan senang belajar, padahal yang dunia ini butuhkan adalah Meista yang harus memenuhi ekspektasi dunia? Untuk apa? Jawaban gue cuma 1: gue capek . Gue capek dan lelah banget memenuhi ekspektasi dunia, jujur aja--tuh ini aja udah jujur, wkwkwk 😂😂😂. Gue capek untuk kehilangan diri gue sendiri di saat gue berusaha ker...
Apa gue yang terlalu idealis ya? Apa gue yang terlalu perfeksionis ya? Apa gue yang terlalu banyak ngeluh ya? Apa gue yang terlalu sering protes ya? Apa gue harusnya lakuin bagian gue aja dan gak usah peduli sama apa yang terjadi ya? Apa gue harusnya gak peka sama "red flags" dalam kehidupan ini ya? ----- Also me: Ya gak semuanya harus disalahin ke diri lo juga, beb. Dalam dunia ini...ada orang-orang yang memang perlu bertumbuh dalam bagiannya masing-masing juga. It doesn't mean "elo gak bisa kerja". Bisa kok, bisa. Minta hikmat sama Tuhan, deh. He knows what to do. He knows what you should do. Ngopi dulu.
What if he is already married? What if he is not a single man? What if he chooses a different belief than mine? What if he has a different perspective of gender-attractiveness? You know...the guy who is not only interested in one gender only... What if he left me once he got to know me better—like the other guy did? I am broken, vulnerable, still have no dream, still in the process of pulling myself together day by day, not pretty enough, not good enough, not rich enough (no, even definitely not rich at all), not slim at all—more like obese due to stress, anxiety, and depression. What if all of the signals that I caught all this time were not about me at all? What if I just lived only in my head after all these times? What if I become so stupid as to think that...gosh, never mind. No matter how many 'what-ifs' in the cloud right now, I will not forget that I have ever caught the "otaknya nyetrum" . Am I suitable enough to be his team-mate of life? What if...I will ge...
Photo by Jessica Christian on Unsplash (Tulisan ini telah tayang pertama kali di situs WARUNGSATEKAMU.ORG dan telah melewati proses penyuntingan oleh tim editorial) --- Aku lahir bukan sebagai orang Kristen, setidaknya sampai aku berusia 6 tahun ketika ayahku menanyakan apakah aku bersedia mengikuti kepercayaannya. Di masa-masa setelahnya, sangat sulit untuk beradaptasi dengan identitas baruku itu karena budaya serta lingkungan sosial seakan-akan mencap aku 'berbeda'. Beberapa konflik terjadi karena 'perubahan' ini, hingga akhirnya aku menyimpulkan bahwa diriku tidak berharga. Aku ditolak dan aku pantas untuk ditolak. Pemikiran akan identitas tersebut ternyata sangat berpengaruh terhadap pola pikir dan kehidupanku sehari-hari. Aku jadi serba takut untuk melakukan sesuatu karena takut salah, takut ditolak, takut orang membenciku karena aku melakukan ini dan itu, dan segala jenis takut lainnya terus menghantuiku sepanjang masa kecil hingga remaja. Aku tumbuh ...
"Tuhan selalu hadir untuk kita, Tuhan selalu menolong kita. Meskipun tentu cara-Nya tidak selalu sama seperti yang kita mau." Kata-kata dalam doa yang di- mention sama pak pendeta ini bikin gue tiba-tiba berlinang air mata. Gak biasanya gue berdoa pas ibadah Minggu di gereja sampe nangis; tapi kali ini denger 2 kalimat itu langsung basah pipi gue. Why? "...tentu cara-Nya tidak selalu sama seperti yang kita mau." Lebih mudah percaya kalau Tuhan pasti akan menolong kita, tapi butuh bergumul dan merenung kembali (bagi gue pribadi) untuk percaya bahwa jenis pertolongan Tuhan gak sama dengan ekspektasi/harapan gue. --- Lately gue lagi belajar lagi tentang memasang ekspektasi. Dari tahun ke tahun gue sering dapet pelajaran berharga terkait ekspektasi pribadi terhadap berbagai hal. Seringkali, ekspektasi ini membuat gue jadinya membuat 'skenario hidup' sendiri yang menurut gue itu terbaik buat gue. Sampai pada tahap yang lebih ngotot ya gue jadi ngerasa "renc...
"Nggak usah takut salah dulu. Kita pasti salah." Sebuah encouragement terhadap diri sendiri bahwa...ya ngapain takut salah ketika ketakutan itu membatasi ruang gerak kita untuk melangkah dan berkarya. Maju aja dulu. Berkarya aja dulu. Along the way pasti akan ada kesalahan toh? Setidaknya, udah melangkah. Daripada gak bikin apa-apa. (Meista, dari balik meja 😅🤣)
Beberapa bulan belakangan ini gue lagi banyak belajar hal baru tentang: relasi. Relasi antar manusia yang unik, dinamis, dan kompleks. Setelah mengalami sendiri berbagai macam dinamika yang terjadi dalam relasi, gue pun menangkap pola yang sama ternyata dialami juga sama kebanyakan orang. Maksudnya, dinamika dalam relasi tuh ya gak cuma gue doang gitu yang ngalemin. Seluruh umat manusia di dunia juga mengalami. Cuma bentuk dinamika dan gimana cara masing-masing orang meresponinya itu aja yang beda-beda. Ada temen yang cerita di tempat kerjanya dia kayak dianggep anak gitu sama bosnya. Saking "dianggep anak", akhirnya yang kerasa sama si temen gue ini adalah si bos gak ngehargain bahwa anak buahnya tuh punya orang tua kandung juga, lho. Well, gue sebagai pendengar cerita cuma bisa merespon: "Yah mungkin bos lo kepengen punya anak tapi belum bisa, kali. Atau ya personal-relationship-attachment -nya dia tinggi aja ke staf-stafnya. Mungkin." Ada juga temen lain yang cur...
Please, allow me to write my own fear story from the angle of Raya (have you watched "Raya and the Last Dragon" ?). Yea, I know it sounds crazy but...it's interesting for me to have a parallel story with her. Raya. Maybe it sounds like a fan-fiction story, but...what I wrote here is totally Meista, and I "borrow" Raya's life from her point of view. I won't deny that I totally fail to "move on" from this awesome movie :") I know. I know the 'Druun' hates me. I know they hate my vision, my purpose, and dislike what I'm doing right now. I know they tried to break down everything around my life so that I couldn't focus on the things I should do. Or...sometimes they tried to distract my focus by showing me the fake reality; assuming that it's a good thing to do, but actually: no. I know I'm not a hero. Not even a princess. Not even someone who has great/full capability to do 'something b...
Photo by freestocks on Unsplash Dear Lord, Now I'm trusting You more than ever 🙏 I'm trusting You. You're molding me, changing me, to be the real Meista; to be Meista that You want, that You design from the very beginning. Through these ups & downs struggle of life, I'm trusting You. Through every pain and heart-aches, I'm trusting You. Through every disappointed moment, every broken expectation, now I believe that there's only You who never break Your promises. Now I'm happy to be the truest Meista. As beauty as I am. As weak as I am. As tough as I am. As vulnerable as I am. And because of these understanding, I can be free to make myself healthy: physically, mentally, mind & soul-ly. Thank You. I adore You, more than ever. And I'm trusting You, the most Creative of all. The Creator. --- Photo by Gabrielle Henderson on Unsplash A random writing while I'm working from office. Sat in a very cozy corner with a new desk-view since today ...
Comments
Post a Comment
Thank you for your comment! :D