Beberapa hari yang lalu, gue balik ngantor naik Transjakarta. Waktu itu lagi hektik banget di kantor, jadwal padet, banyak deadline, banyak rapat, jadi rasanya energi sisaan cuma bertahan buat otewe pulang. Nah, buat yang relate dengan aktivitas 'naik TJ', pasti ngerti lah ya rasanya terguncang sesekali di dalam bus. Namanya juga transportasi darat yekan, pasti ada aja jegluk-jegluknya (apa coba ๐ ). Saat itu gue duduk di area penumpang umum, atau yang selain Area Khusus Wanita, karena tempat duduknya ngadep depan, bukan nyamping. Gue lagi pengen tidur banget, jadi butuh duduk deket jendela biar bisa senderin kepala. Di tengah perjalanan, gue sempet cemas karena guncangannya si TJ lumayan agak ganggu. Sebenarnya seperti yang gue mention di atas lah ya, naik TJ itu udah pasti siap dengan guncangan-guncangan yang ada. Cuman mungkin waktu itu kondisi gue lagi lelah banget, jadi yang ada malah insekyur. "Ini kenapa ya sama busnya? Gak ada kendala teknis kan? Apa jangan-jangan ...
Beberapa bulan belakangan ini gue lagi banyak belajar hal baru tentang: relasi. Relasi antar manusia yang unik, dinamis, dan kompleks. Setelah mengalami sendiri berbagai macam dinamika yang terjadi dalam relasi, gue pun menangkap pola yang sama ternyata dialami juga sama kebanyakan orang. Maksudnya, dinamika dalam relasi tuh ya gak cuma gue doang gitu yang ngalemin. Seluruh umat manusia di dunia juga mengalami. Cuma bentuk dinamika dan gimana cara masing-masing orang meresponinya itu aja yang beda-beda. Ada temen yang cerita di tempat kerjanya dia kayak dianggep anak gitu sama bosnya. Saking "dianggep anak", akhirnya yang kerasa sama si temen gue ini adalah si bos gak ngehargain bahwa anak buahnya tuh punya orang tua kandung juga, lho. Well, gue sebagai pendengar cerita cuma bisa merespon: "Yah mungkin bos lo kepengen punya anak tapi belum bisa, kali. Atau ya personal-relationship-attachment -nya dia tinggi aja ke staf-stafnya. Mungkin." Ada juga temen lain yang cur...
Photo by Lukas Stoermer on Unsplash Jakarta. Jumat, 27 Mei 2016 Malam itu (harusnya) jadi salah satu malam membahagiakan buatku. Bayangin aja: hanya dalam 1 malam aku bisa menyaksikan secara langsung 2 grup musik favorit sepanjang masa. Kahitna dan Yovie and Nuno . Dua grup musik besutan Yovie Widianto yang aku idolakan sejak kecil sampai sekarang. Bahkan kini gaya musik Yovie Widianto menjadi salah satu inspirasiku dalam bermain piano dan mencari aransemen--ini cukup menjelaskan mengapa di beberapa kesempatan pelayanan menjadi pemusik agaknya aransemennya rada ke-Kahitna-Kahitna-an. Hahaha ✌๐ "Mei, lu mau nonton Kahitna gak?", seorang teman di masa kuliah tiba-tiba mengirim pesan singkat beberapa minggu sebelum hari-H. "Wah, kapan di mana?", tanyaku. "Di SCBD Sudirman. Ini acaranya Global TV. Gue kebagian tiket gratis, cuma gue ga begitu suka Kahitna. Terus gue inget elu." Sungguh sebuah berkat tak terduga. Temanku itu kebetulan memang bekerja di stasi...
Katanya sombong itu gak baik. Tapi rendah diri juga gak baik. Terus sulit gimana caranya biar bisa hidup 'in-between' ; artinya ya gak sombong, tapi gak rendah diri juga. Tetap punya self-esteem yang sehat, tapi tidak berlebihan yang nanti ujung-ujungnya bisa sombong. --- Gue sering berada pada situasi di mana gue ngerasa semua orang membenci gue. Padahal saat itu lagi gak ada peristiwa buruk yang terjadi. Semua terasa baik-baik saja. But somehow, there's a voice in my head telling me that: "You're not enough, Meista! You're not good enough!" Gue dilatih dan dididik menjadi seorang perempuan yang harus rendah hati dan apa adanya sedari kecil. Terlepas dari berbagai achievement dan berbagai pujian yang diterima dari orang lain, gue tetap mempertahankan value itu: tetap rendah hati . TAPI... Entah kenapa gue akhir-akhir ini jadi ngeblur dan susah membedakan apa itu rendah hati dan apa itu rendah diri ? Alih-alih rendah hati, gue jujur lagi bermasalah dengan...
(kiri ke kanan: Aufa, Tasia, Veve, Meista) Siapa yang nyangka bahwa persahabatan bisa tercipta hanya gara-gara ngerjain tugas bersama? Kami sih gak nyangka ๐ Perkenalkan teman-teman saya: Rina Nur Aufa Arifin (Aufa), Anastasia Woro Ayu Pangastuti (Tasia), dan Verina Haifa Hasanah (Veve). Kami berempat bukan geng nero atau sekelompok cewek-cewek yang mengaku dirinya bersahabat kemudian beli gelang samaan supaya keliatannya kompak kok. No . Kami cuma sekelompok (yang tadinya) mahasiswi yang punya hasrat tinggi di bidang perfilman atau per-video-an. Kami adalah (mantan) mahasiswi Industri Kreatif Penyiaran, sebuah peminatan yang mengarahkan kami bagaimana menjadi insan kreatif di industri audio-visual non-berita (kalo yang industri audio-visual berita masuk ke peminatan Jurnalisme). Salah satu mata kuliah yang harus kami ambil adalah Produksi Video . Waktu itu dosen kami, Bang Sam Sarumpaet, memilih 7 orang yang ide ceritanya paling bagus untuk jadi sutradara sekaligu...
Monsters University Image source: https://wallpaperaccess.com/monsters-university Ada yang sudah pernah nonton film " Monsters University "? Kalau belum, aku sarankan jangan membaca tulisan ini sampai habis karena akan ada banyak spoiler di dalamnya ๐ Udah lama sebenarnya pengen nulis tentang film ini. Mmm...jatohnya bukan ke review sih ya, tapi lebih ke sharing pesan yang aku tangkep dari keseluruhan alur ceritanya. Jadi kalau mau kepo lebih lanjut, entah tentang pengisi suaranya kah, tahun rilisnya kah, atau data terperinci lainnya bisa langsung di- gugling sendiri aja yaa ๐ --- Salah satu hal yang bikin aku menyenangi film ini adalah karena mengingatkanku akan masa-masa kuliah dulu. Inget banget gimana waktu jadi mahasiswa baru (maba): tertarik ngeliatin unit kegiatan mahasiswa (UKM) yang macem-macem, dan super excited di awal-awal perkuliahan terlebih karena kuliahnya di jurusan yang diidam-idamkan (Ilmu Komunikasi), dan tinggal di tempat yang bukan rumah sendiri alias ...
Photo by Duy Pham on Unsplash Just sharing my thought. ----- Gue adalah salah satu orang yang cukup apolitis. Kenapa 'cukup'? Karena kadang peduli sama dunia politik, kadang enggak. Kalau mau dibilang militan sih ya enggak banget. Tapi gue enggak pernah melewatkan satu pemilihan umum apapun itu. Pilpres, pileg, sampai pilkada gue ikuti semua. Alasannya sih ya sesepele ikut peraturan dan diajak orang tua. That's it. Gak terlalu tau dan peduli apakah keikutsertaan gue nyoblos tuh berdampak atau enggak buat negara. ----- Pasca resign dari salah satu perusahaan media besar di Indonesia, gue dapat kesempatan untuk membantu salah satu caleg yang akan maju sebagai anggota legislatif DPR RI. Freelance ajah. Dan ini pun memang karena channel dari sobat gue sendiri. Bantuan yang gue lakukan pun bukan yang kayak tim turun lapangan kampanye-kampanye gitu. Cuma jadi mimin socmed. Social Media Strategist lah kalo bahasa kerennya mah. Hahaha....
Menyadari ada sinyal-sinyal dari dalam diri yang membuat gue harus mengambil keputusan, inilah beberapa hal yang harus gue pertanggung jawabkan: 1. Sekarang gue akan bertanggung jawab atas pilihan "ingin mengenal seseorang" dan mendoakan orang tersebut selama kurang lebih 2 tahun terakhir. Dan kini, gue akan kembali bertanggung jawab untuk memutuskan bahwa gue harus menghentikan semuanya. Menghentikan fokus doa dan hati untuknya, membatasi akses komunikasi, dan membatasi ruang gerak kerjasama yang akan kembali memicu interaksi. Sudah cukup bagi gue 2 tahun membuka hati dan kesempatan lebar-lebar namun semuanya terasa begitu kering dan tidak bertumbuh. Sebuah proses yang tidak berjalan baik dan pastinya tidak memenuhi ekspektasi saya. 2. Sekarang gue akan bertanggung jawab atas pilihan pekerjaan yang gue tanda tangani kontraknya. Meski ternyata di awal penandatanganan kontrak gue sempat punya naluri bahwa ada sesuatu hal yang "kurang rapi" di sini, tapi karena gue bu...
"Gue gila ya?" "Gue mengidap penyakit gangguan jiwa ya?" "Gue terlalu berekspektasi ya?" "Gue terlalu bucin ya?" "Gue terlalu baperan ya?" "Kok gue ngerasa kayak jadi orang aneh bahkan di kalangan rekan, teman, atau circle terdekat sih?" ...dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan membingungkan tatkala gue ngerasa apa yang gue rasakan, alami, pikirkan, itu seperti tidak relatable dengan orang-orang lain, termasuk mereka-mereka yang, gue consider , sebagai orang-orang terdekat gue. Berkali-kali sedih dan kecewa sehingga menyalahkan keadaan serta orang-orang, ternyata gue seringkali lupa bahwa gue memang diciptakan "berbeda". Yup, masing-masing kita memang tentu diciptakan berbeda satu sama lain. Kita diciptakan dengan "spek" -nya masing-masing dan gak ada satupun manusia yang identik dengan seorang manusia lainnya. Ketika gue menyadari bahwa gue memiliki kepribadian INFJ menurut alat ukur kepribadian yang...
Comments
Post a Comment
Thank you for your comment! :D