Photo by Lukas Stoermer on Unsplash Jakarta. Jumat, 27 Mei 2016 Malam itu (harusnya) jadi salah satu malam membahagiakan buatku. Bayangin aja: hanya dalam 1 malam aku bisa menyaksikan secara langsung 2 grup musik favorit sepanjang masa. Kahitna dan Yovie and Nuno . Dua grup musik besutan Yovie Widianto yang aku idolakan sejak kecil sampai sekarang. Bahkan kini gaya musik Yovie Widianto menjadi salah satu inspirasiku dalam bermain piano dan mencari aransemen--ini cukup menjelaskan mengapa di beberapa kesempatan pelayanan menjadi pemusik agaknya aransemennya rada ke-Kahitna-Kahitna-an. Hahaha ✌๐ "Mei, lu mau nonton Kahitna gak?", seorang teman di masa kuliah tiba-tiba mengirim pesan singkat beberapa minggu sebelum hari-H. "Wah, kapan di mana?", tanyaku. "Di SCBD Sudirman. Ini acaranya Global TV. Gue kebagian tiket gratis, cuma gue ga begitu suka Kahitna. Terus gue inget elu." Sungguh sebuah berkat tak terduga. Temanku itu kebetulan memang bekerja di stasi...
Beberapa hari yang lalu, gue balik ngantor naik Transjakarta. Waktu itu lagi hektik banget di kantor, jadwal padet, banyak deadline, banyak rapat, jadi rasanya energi sisaan cuma bertahan buat otewe pulang. Nah, buat yang relate dengan aktivitas 'naik TJ', pasti ngerti lah ya rasanya terguncang sesekali di dalam bus. Namanya juga transportasi darat yekan, pasti ada aja jegluk-jegluknya (apa coba ๐ ). Saat itu gue duduk di area penumpang umum, atau yang selain Area Khusus Wanita, karena tempat duduknya ngadep depan, bukan nyamping. Gue lagi pengen tidur banget, jadi butuh duduk deket jendela biar bisa senderin kepala. Di tengah perjalanan, gue sempet cemas karena guncangannya si TJ lumayan agak ganggu. Sebenarnya seperti yang gue mention di atas lah ya, naik TJ itu udah pasti siap dengan guncangan-guncangan yang ada. Cuman mungkin waktu itu kondisi gue lagi lelah banget, jadi yang ada malah insekyur. "Ini kenapa ya sama busnya? Gak ada kendala teknis kan? Apa jangan-jangan ...
Beberapa bulan belakangan ini gue lagi banyak belajar hal baru tentang: relasi. Relasi antar manusia yang unik, dinamis, dan kompleks. Setelah mengalami sendiri berbagai macam dinamika yang terjadi dalam relasi, gue pun menangkap pola yang sama ternyata dialami juga sama kebanyakan orang. Maksudnya, dinamika dalam relasi tuh ya gak cuma gue doang gitu yang ngalemin. Seluruh umat manusia di dunia juga mengalami. Cuma bentuk dinamika dan gimana cara masing-masing orang meresponinya itu aja yang beda-beda. Ada temen yang cerita di tempat kerjanya dia kayak dianggep anak gitu sama bosnya. Saking "dianggep anak", akhirnya yang kerasa sama si temen gue ini adalah si bos gak ngehargain bahwa anak buahnya tuh punya orang tua kandung juga, lho. Well, gue sebagai pendengar cerita cuma bisa merespon: "Yah mungkin bos lo kepengen punya anak tapi belum bisa, kali. Atau ya personal-relationship-attachment -nya dia tinggi aja ke staf-stafnya. Mungkin." Ada juga temen lain yang cur...
Katanya sombong itu gak baik. Tapi rendah diri juga gak baik. Terus sulit gimana caranya biar bisa hidup 'in-between' ; artinya ya gak sombong, tapi gak rendah diri juga. Tetap punya self-esteem yang sehat, tapi tidak berlebihan yang nanti ujung-ujungnya bisa sombong. --- Gue sering berada pada situasi di mana gue ngerasa semua orang membenci gue. Padahal saat itu lagi gak ada peristiwa buruk yang terjadi. Semua terasa baik-baik saja. But somehow, there's a voice in my head telling me that: "You're not enough, Meista! You're not good enough!" Gue dilatih dan dididik menjadi seorang perempuan yang harus rendah hati dan apa adanya sedari kecil. Terlepas dari berbagai achievement dan berbagai pujian yang diterima dari orang lain, gue tetap mempertahankan value itu: tetap rendah hati . TAPI... Entah kenapa gue akhir-akhir ini jadi ngeblur dan susah membedakan apa itu rendah hati dan apa itu rendah diri ? Alih-alih rendah hati, gue jujur lagi bermasalah dengan...
(kiri ke kanan: Aufa, Tasia, Veve, Meista) Siapa yang nyangka bahwa persahabatan bisa tercipta hanya gara-gara ngerjain tugas bersama? Kami sih gak nyangka ๐ Perkenalkan teman-teman saya: Rina Nur Aufa Arifin (Aufa), Anastasia Woro Ayu Pangastuti (Tasia), dan Verina Haifa Hasanah (Veve). Kami berempat bukan geng nero atau sekelompok cewek-cewek yang mengaku dirinya bersahabat kemudian beli gelang samaan supaya keliatannya kompak kok. No . Kami cuma sekelompok (yang tadinya) mahasiswi yang punya hasrat tinggi di bidang perfilman atau per-video-an. Kami adalah (mantan) mahasiswi Industri Kreatif Penyiaran, sebuah peminatan yang mengarahkan kami bagaimana menjadi insan kreatif di industri audio-visual non-berita (kalo yang industri audio-visual berita masuk ke peminatan Jurnalisme). Salah satu mata kuliah yang harus kami ambil adalah Produksi Video . Waktu itu dosen kami, Bang Sam Sarumpaet, memilih 7 orang yang ide ceritanya paling bagus untuk jadi sutradara sekaligu...
Beberapa hari lalu gue sempet nulisin 3 poin pembelajaran besar yang gue dapetin sepanjang berkarir selama kurang lebih 7 tahun. Cek tulisannya dimari ya ๐ Nah, kali ini gue mau coba tambahkan beberapa poin reflektif gue lagi yang semoga bisa meng- encourage teman-teman khususnya para fresh graduate yang baru mau mulai cari pekerjaan. Tapi sebelum itu, gue mo bikin disclaimer dulu nih, hahahah. --- Di postingan gue sebelumnya, gue share bahwa gue itu jadi job-hopper selama beberapa tahun belakangan ini. Mungkin beberapa dari kalian bisa muncul pertanyaan di kepalanya macem: "Emang boleh ya lompat-lompat kerjaan gitu?" "Kalo job-hopping gitu bukannya bikin CV dan LinkedIn jadi gak bagus ya?" "Seharusnya kita itu loyal atau enggak sih Kak sama tempat kerja kita?" Nah, zuzur sezuzur-zuzurnya, gue gak bisa menghitam-putihkan boleh enggaknya kita melakukan job-hopping alias loncat-loncat pekerjaan. Tapi juga...gue tidak bisa memastikan apakah loyal kepada te...
Monsters University Image source: https://wallpaperaccess.com/monsters-university Ada yang sudah pernah nonton film " Monsters University "? Kalau belum, aku sarankan jangan membaca tulisan ini sampai habis karena akan ada banyak spoiler di dalamnya ๐ Udah lama sebenarnya pengen nulis tentang film ini. Mmm...jatohnya bukan ke review sih ya, tapi lebih ke sharing pesan yang aku tangkep dari keseluruhan alur ceritanya. Jadi kalau mau kepo lebih lanjut, entah tentang pengisi suaranya kah, tahun rilisnya kah, atau data terperinci lainnya bisa langsung di- gugling sendiri aja yaa ๐ --- Salah satu hal yang bikin aku menyenangi film ini adalah karena mengingatkanku akan masa-masa kuliah dulu. Inget banget gimana waktu jadi mahasiswa baru (maba): tertarik ngeliatin unit kegiatan mahasiswa (UKM) yang macem-macem, dan super excited di awal-awal perkuliahan terlebih karena kuliahnya di jurusan yang diidam-idamkan (Ilmu Komunikasi), dan tinggal di tempat yang bukan rumah sendiri alias ...
Every time I couldn't make a decision due to confusion, I think I should ask myself this question: Is it because "I don't know how to do it" , or "I actually don't want to do it" ?
Umur 26 tahun itu berarti... Seperempat abad lewat dikit. Dibilang orang dewasa masih kayak anak kicik, dibilang teenager juga ketuaan. ----- Ulang tahun makin nambah usia gue bukannya semakin pengen dirayain tapi malah semakin mager untuk merayakan pertambahan usia diri sendiri. Hari ini aja gue udah merencanakan untuk males-malesan dan tidur. Tapi ternyata kemaren, kemaren banget hari Kamis 16 Mei, gue dapet panggilan wawancara kerja. Sebagai orang waras lainnya yang lagi cari kerja ya gue cancel lah ya si rencana bermalas-malasan itu dan mulai prepare segala keperluannya. Salah satu faktor yang bikin gue mulai mager merayakan ultah gue sendiri mungkin karena gue punya pengalaman buruk pas sweet seventeen yang ternyata gak se- sweet apa kata dunia. Sejak peristiwa tak menyenangkan tersebut--yang gak perlu gue tulis karena males juga--gue jadi skeptis sama yang namanya ngerayain ulang tahun. Khususnya ultah gue sendiri. Kalo ultah orang lain sih gue masih sem...
Comments
Post a Comment
Thank you for your comment! :D