Posts

Showing posts with the label Meista in a Day

"Kamu hobinya apa?" | "Kerja."

Image
Anjir, beneran??? 🤣🤣🤣🤣🤣 --- Pekan lalu gue ketemuan sama salah satu kakak mentor yang (hingga saat ini) menolong gue berproses menemukan dan menggali potensi-potensi dalam diri. Sebagai perempuan muda yang terlampau sering clueless dalam hidupnya, dan juga yang terlampau sering mengemukakan narasi-narasi negatif terhadap diri sendiri, rasanya mencari tahu tentang potensi diri sendiri itu menjadi hal yang sulit sekali bagi gue. Belum lagi ditambah rasa minder, ngebanding-bandingin diri sendiri dengan orang lain, suka melihat atau memandang diri dari sudut pandang si crush  ( like: "Apakah dia akan menyukaiku jika aku seperti ini-itu?" --pfftt), dan fokus yang cukup berlebihan pada aspek kelemahan diri. Jadilah, akhirnya gue meminta pertolongan orang lain untuk membantu gue bisa menilai dan melihat diri secara lebih obyektif. Bersyukur banget ternyata orang-orang kayak mentor, psikolog atau terapis atau konselor atau apapun itu namanya, dikasih karunia khusus untuk bisa ba...

Emangnya Gue Se-Ngegas Itu?

Image
Sebenarnya gak nyari yang sempurna juga. Apalah arti sempurna ketika gue juga bukanlah seseorang yang sempurna. Yang dicari adalah dia yang gak main-main sama hati perempuan. Ya..memang gue pribadi gak bisa tahu dan gak bisa bedain (dan gak bisa peka, to be honest ) mana yang memang motivasinya main-main, mana yang lagi cek ombak, mana yang 'sok asik' dan seru padahal memang dari sananya udah begitu (maksudnya ya gak berarti dia suka sama gue juga), mana yang memang ya tulus mau berteman. Cenderung polos, tapi gak bego. Tapi somehow bisa peka juga. Hahaha sebenarnya males sih ya kalo udah bahasan yang gini-gini lagi. Gue sadar gue dianugerahi kepekaan, tapi terakhir kali gue peka, dan ternyata kenyataan tidak sesuai ekspektasi, hancurnya banget-banget. Salah tafsir. Udah seneng banget ternyata ni orang mau berteman sama gue dan terbuka juga sama kisah hidup masing-masing (meski gak semua ya, seengganya gue dapet sense bahwa gue dipercaya sama cerita-cerita dia. Itu aja udah sen...

I Quit

Image
Berhenti. Berhenti untuk menganggap bahwa diri ini mampu mengerjakan segala sesuatunya tanpa batas. Berhenti untuk punya pemikiran bahwa diri ini tak layak mendapat pertolongan. Berhenti untuk memaksakan diri terlalu keras untuk melakukan hal-hal yang memang sudah di luar batas dan kemampuan. Berhenti untuk menilai diri, "Lo masih kurang berusaha, Mei. Resiliensi lo rendah. Jangan lemah!" Sampai akhirnya...dirinya lelah. Nyatanya, diri ini memang lemah. Helpless. Powerless. Gak punya daya dan kekuatan apa-apa untuk mengontrol hidup bahkan untuk hal sekecil apapun. Nyawanya sendiri pun gak ada dalam kontrol tangan sendiri. Yang bisa dilakukan sebenarnya hanyalah melakukan tanggung jawab kehidupan sesuai porsi, kapasitas, dan bersandar pada Lengan yang Kekal. Semudah itu? Enggak. Bayang-bayang kehidupan yang sudah di- framing sedemikian rupa dalam kepala nyatanya hanya menciptakan sebuah ilusi bahagia yang tak terealisasi. Menciptakan asumsi yang tak terverifikasi. Mendatangkan...

Belajar dari Sebuah Kondisi Saat Kita yang Bukan Pegang Kendali

Image
Salah satu challenge jadi pemain musik untuk kegiatan ibadah/gereja adalah: pamer skill. Kalo bukan pamer skill, seenggaknya pasti ada perasaan atau pemikiran yang pernah terbesit seakan-akan permainan musik yang dilakukan itu buat "konser"; to showing off that we can play the music well. Zero mistakes. Smooth composition-intro-ending-bla bla bla. Butuh waktu yang gak sebentar bagi gue pribadi untuk berproses dalam hal ini. Dimulai dari masa-masa ikut persekutuan di kampus, sampai sekarang udah umur nearly 30 masih diminta tolong jadi pemusik tuh gue tetep ngerasa I'm still on the process; untuk punya mindset dan pemahaman bahwa: "Lu main musik bukan buat konser, cuy. Peran lu gimana caranya komposisi musik yang dimainkan—mau seheboh atau sesimpel apapun aransemennya—bisa 'mengantarkan' jemaat nyanyi dari hati buat nyembah Tuhan." Apalagi dalam konteks main musik buat ibadah/gereja ya. Gak gampang, I know. Hahaha. Sebuah proses yang panjang untuk seorang...
"Nggak usah takut salah dulu. Kita pasti salah." Sebuah encouragement terhadap diri sendiri bahwa...ya ngapain takut salah ketika ketakutan itu membatasi ruang gerak kita untuk melangkah dan berkarya. Maju aja dulu. Berkarya aja dulu. Along the way pasti akan ada kesalahan toh? Setidaknya, udah melangkah. Daripada gak bikin apa-apa. (Meista, dari balik meja 😅🤣)

Tinggal di Tempat Baru—Sebuah Proses Discerning yang Bikin Dagdigdug

Image
Sebelum nulis ini, gue nangis di kosan. Namun kali ini bukan nangis gegara patah hati. Bukan nangis gegara cowok yang gue suka menolak perasaan gue. Bukan gegara hal-hal yang menyakitkan dan mendukakan hati. ...tapi karena serentetan doa yang terjawab. ...karena gue secara personal merasakan sendiri Tuhan itu ada dan nyata meski tak terlihat. ..karena gue sekarang mulai paham bahwa Tuhan hadir di tengah-tengah kehidupan gue, baik dalam hal yang biasa gue anggep sepele-receh- taken for granted , maupun hal-hal besar yang menurut gue gak make sense. ...karena serentetan doa yang Dia jawab. ----- Singkat cerita gue baru balik dari rumah papa di Ciledug dan baru sampe kosan. Abis beres-beresin londrian, unpack  ransel, seperti biasa gue suka randomly auto-kontemplasi sendiri pas lagi ngeliat kamar kosan. I do remember bagaimana segelintir proses gue bergumul untuk tinggal sendiri itu lumayan melelahkan hati, emosi, dan pikiran. Mulai dari perasaan insecure , gak tahu mulai dari mana, g...
Apa gue yang terlalu idealis ya? Apa gue yang terlalu perfeksionis ya? Apa gue yang terlalu banyak ngeluh ya? Apa gue yang terlalu sering protes ya? Apa gue harusnya lakuin bagian gue aja dan gak usah peduli sama apa yang terjadi ya? Apa gue harusnya gak peka sama "red flags" dalam kehidupan ini ya? ----- Also me: Ya gak semuanya harus disalahin ke diri lo juga, beb. Dalam dunia ini...ada orang-orang yang memang perlu bertumbuh dalam bagiannya masing-masing juga. It doesn't mean "elo gak bisa kerja". Bisa kok, bisa. Minta hikmat sama Tuhan, deh. He knows what to do. He knows what you should do. Ngopi dulu.

Si "Piano Princess"

Image
Pagi ini di kantor...ada temen yang pasang lagu Vierra. Jujur sampe sekarang gue memang masih suka banget sama lagu-lagunya Vierra. Enak banget komposisi musiknya Mas Kevin Aprilio! 😍 Terus gue jadi  throwback... ke masa-masa ketika gue lagi tergila-gila sama lagunya Vierra, di saat yang sama juga gue tengah suka dengan seseorang. Dia kakak kelas (kakak kelas lageeee, yekan 🤣🤣🤣). Dia pemain drum. Beberapa kali pernah nge-band bareng dan...yah memang momen-momen main musik tuh suka jadi celah bagi gue pada akhirnya menyukai seseorang. Turns out... gue jadi merenung: Selama ini cowok-cowok yang gue lirik itu pasti yang bisa main musik. Beberapa diantaranya jago bahkan dewa banget sampe bikin hati klepek-klepek. Yang jago main piano pernah gue lirik--yaiyalah, ini sih udah pasti bawaan karena pasti liat role model ayah sendiri yang juga jago main pianonya, guru pulak! Terus yang jago main gitar juga pernah gue taksir. Kemudian yang di masa-masa suka Vierra ini gue naksir sama seni...

Takut Ditinggal dan Takut Kehilangan

Image
Takut kehilangan relasi. Takut kehilangan kasih sayang dari orang-orang terdekat. Takut kehilangan kepercayaan dari orang-orang di tempat kerja. Takut kehilangan pekerjaan. Takut kehilangan diri sendiri. Takut kehilangan komunikasi dengan orang-orang yang dikasihi. Takut kehilangan momen bersama orang-orang yang dikasihi. Takut ditinggalkan. Takut dijauhkan. Semuanya dimulai dengan kata: "takut" . ----- Rabu, 10 Agustus 2022 Hari ini lagi minta izin WFC (Work From Cafe) karena mau ketemu temen dekat yang dalam pekan ini akan berangkat ke negeri Paman Sam untuk studi lanjut. Dia adalah salah satu orang yang "gue pilih" untuk menunjukkan sisi ter-rapuh dan terlemah gue, and thank God  kita berdua sama-sama memilih untuk tumbuh bersama sebagai saudara dalam Kristus (terima kasih pemuridan kampus yang mempertemukan kami! Bertemu dengan Christiani Sagala dan Kak Masniar Elysabahtini menjadi salah satu warna terindah dalam hidup gue karena lewat kelompok kecil ini gue dii...

The Useless Thing

Image
Selasa, 9 Agustus 2022 Semua masih terasa cukup "jetlag"  ketika mengalami atau melihat banyak hal terjadi dalam waktu bersamaan. Belum genap sepekan adaptasi di tempat hidup yang baru. Baru aja membuka diri untuk rekonsiliasi dengan beberapa teman dekat. Menyesuaikan ritme hidup untuk masing-masing aspek (pekerjaan, aktivitas pelayanan, berelasi sama keluarga, berproses dalam sebuah pergumulan, dan lain-lain). Semuanya kadang bikin sakit kepala karena pertanyaan yang sering muncul adalah: "Ini yang mana dulu dah yang harus gue kerjain? Mana yang harus diprioritaskan?" ...karena semuanya terlihat penting dan harus dinomorsatukan. Respon apa yang muncul pertama kali? Khawatir. --- Hari Selasa kemarin seperti biasa tiap bangun pagi di kepala gue sudah satsetsatset memikirkan rancangan life flow apa-apa aja yang perlu gue kerjakan dan urus di hari itu. Salah satu agendanya adalah meeting rutin dwi-mingguan dengan pimpinan gue jam 10 pagi . Sejak malam sebelumnya, si Me...

A Weekend True Story

Image
Minggu, 7 Agustus 2022 21:48 Menikmati punggung yang panas abis dikerok mama lantaran gaenak bodi gegara sakit kepala akibat nangis semaleman dan tidur gak nyenyak. Kenapa sih lo? Ada apa sebenarnya? ----- Masing-masing orang punya caranya sendiri dalam berekspektasi. Masing-masing orang, juga punya caranya sendiri dalam meresponi ekspektasi yang tidak terealisasi. Hal-hal yang "dipasangkan" ekspektasi pun bisa beragam, tergantung dari apa value yang dianut oleh masing-masing orang. As for me, relationship and friendship become my top/highest value in my life. Ketika diberi kesempatan untuk berelasi dengan orang lain, mungkin ini dalam konteks pertemanan, gue akan masukkan itu ke dalam skala prioritas kehidupan gue. Apalagi, jika gue menilai bahwa relasi tersebut layak gue perjuangkan (emang ada relasi yang gak layak diperjuangkan? Ya ada. Relasi yang taken for granted gitu; yang datang dan pergi gitu aja). I thought...the relationship that I will tell in this story ada dalam...