Photo by Lukas Stoermer on Unsplash Jakarta. Jumat, 27 Mei 2016 Malam itu (harusnya) jadi salah satu malam membahagiakan buatku. Bayangin aja: hanya dalam 1 malam aku bisa menyaksikan secara langsung 2 grup musik favorit sepanjang masa. Kahitna dan Yovie and Nuno . Dua grup musik besutan Yovie Widianto yang aku idolakan sejak kecil sampai sekarang. Bahkan kini gaya musik Yovie Widianto menjadi salah satu inspirasiku dalam bermain piano dan mencari aransemen--ini cukup menjelaskan mengapa di beberapa kesempatan pelayanan menjadi pemusik agaknya aransemennya rada ke-Kahitna-Kahitna-an. Hahaha ✌😂 "Mei, lu mau nonton Kahitna gak?", seorang teman di masa kuliah tiba-tiba mengirim pesan singkat beberapa minggu sebelum hari-H. "Wah, kapan di mana?", tanyaku. "Di SCBD Sudirman. Ini acaranya Global TV. Gue kebagian tiket gratis, cuma gue ga begitu suka Kahitna. Terus gue inget elu." Sungguh sebuah berkat tak terduga. Temanku itu kebetulan memang bekerja di stasi...
Beberapa bulan belakangan ini gue lagi banyak belajar hal baru tentang: relasi. Relasi antar manusia yang unik, dinamis, dan kompleks. Setelah mengalami sendiri berbagai macam dinamika yang terjadi dalam relasi, gue pun menangkap pola yang sama ternyata dialami juga sama kebanyakan orang. Maksudnya, dinamika dalam relasi tuh ya gak cuma gue doang gitu yang ngalemin. Seluruh umat manusia di dunia juga mengalami. Cuma bentuk dinamika dan gimana cara masing-masing orang meresponinya itu aja yang beda-beda. Ada temen yang cerita di tempat kerjanya dia kayak dianggep anak gitu sama bosnya. Saking "dianggep anak", akhirnya yang kerasa sama si temen gue ini adalah si bos gak ngehargain bahwa anak buahnya tuh punya orang tua kandung juga, lho. Well, gue sebagai pendengar cerita cuma bisa merespon: "Yah mungkin bos lo kepengen punya anak tapi belum bisa, kali. Atau ya personal-relationship-attachment -nya dia tinggi aja ke staf-stafnya. Mungkin." Ada juga temen lain yang cur...
Monsters University Image source: https://wallpaperaccess.com/monsters-university Ada yang sudah pernah nonton film " Monsters University "? Kalau belum, aku sarankan jangan membaca tulisan ini sampai habis karena akan ada banyak spoiler di dalamnya 😂 Udah lama sebenarnya pengen nulis tentang film ini. Mmm...jatohnya bukan ke review sih ya, tapi lebih ke sharing pesan yang aku tangkep dari keseluruhan alur ceritanya. Jadi kalau mau kepo lebih lanjut, entah tentang pengisi suaranya kah, tahun rilisnya kah, atau data terperinci lainnya bisa langsung di- gugling sendiri aja yaa 😁 --- Salah satu hal yang bikin aku menyenangi film ini adalah karena mengingatkanku akan masa-masa kuliah dulu. Inget banget gimana waktu jadi mahasiswa baru (maba): tertarik ngeliatin unit kegiatan mahasiswa (UKM) yang macem-macem, dan super excited di awal-awal perkuliahan terlebih karena kuliahnya di jurusan yang diidam-idamkan (Ilmu Komunikasi), dan tinggal di tempat yang bukan rumah sendiri alias ...
Photo by Duy Pham on Unsplash Just sharing my thought. ----- Gue adalah salah satu orang yang cukup apolitis. Kenapa 'cukup'? Karena kadang peduli sama dunia politik, kadang enggak. Kalau mau dibilang militan sih ya enggak banget. Tapi gue enggak pernah melewatkan satu pemilihan umum apapun itu. Pilpres, pileg, sampai pilkada gue ikuti semua. Alasannya sih ya sesepele ikut peraturan dan diajak orang tua. That's it. Gak terlalu tau dan peduli apakah keikutsertaan gue nyoblos tuh berdampak atau enggak buat negara. ----- Pasca resign dari salah satu perusahaan media besar di Indonesia, gue dapat kesempatan untuk membantu salah satu caleg yang akan maju sebagai anggota legislatif DPR RI. Freelance ajah. Dan ini pun memang karena channel dari sobat gue sendiri. Bantuan yang gue lakukan pun bukan yang kayak tim turun lapangan kampanye-kampanye gitu. Cuma jadi mimin socmed. Social Media Strategist lah kalo bahasa kerennya mah. Hahaha....
Beberapa hari yang lalu, gue balik ngantor naik Transjakarta. Waktu itu lagi hektik banget di kantor, jadwal padet, banyak deadline, banyak rapat, jadi rasanya energi sisaan cuma bertahan buat otewe pulang. Nah, buat yang relate dengan aktivitas 'naik TJ', pasti ngerti lah ya rasanya terguncang sesekali di dalam bus. Namanya juga transportasi darat yekan, pasti ada aja jegluk-jegluknya (apa coba 😅). Saat itu gue duduk di area penumpang umum, atau yang selain Area Khusus Wanita, karena tempat duduknya ngadep depan, bukan nyamping. Gue lagi pengen tidur banget, jadi butuh duduk deket jendela biar bisa senderin kepala. Di tengah perjalanan, gue sempet cemas karena guncangannya si TJ lumayan agak ganggu. Sebenarnya seperti yang gue mention di atas lah ya, naik TJ itu udah pasti siap dengan guncangan-guncangan yang ada. Cuman mungkin waktu itu kondisi gue lagi lelah banget, jadi yang ada malah insekyur. "Ini kenapa ya sama busnya? Gak ada kendala teknis kan? Apa jangan-jangan ...
Photo by Jason Leung on Unsplash (Tulisan ini telah tayang pertama kali di situs WARUNGSATEKAMU.ORG dan telah melewati proses penyuntingan oleh tim editorial) --- Rabu, 1 Januari 2020 Pagi itu, sekitar jam setengah lima, aku dan keluarga cukup panik saat mengetahui genangan air banjir mulai memasuki rumah. Sambil memindahkan beberapa barang ke tempat yang lebih tinggi, aku masih terus berharap dan berdoa hujan deras bisa segera reda supaya genangan air tidak makin naik. Namun alam sepertinya berkata lain. Hujan tak kunjung reda, tetap deras, dan air di dalam rumah naik perlahan-lahan, menyebabkan bencana banjir Jakarta dan wilayah sekitarnya kembali terjadi di awal tahun 2020. Dalam kebingungan dan ketakutanku, pertanyaan yang kulontarkan pada Tuhan dalam doa adalah: "Tuhan, ini aku harus ngapain lagiiiii?". Akhirnya aku beranikan diri mengambil keputusan. "Pa, ini hujannya enggak berhenti. Airnya makin tinggi. Apa enggak sebaiknya kita keluar d...
Menyadari ada sinyal-sinyal dari dalam diri yang membuat gue harus mengambil keputusan, inilah beberapa hal yang harus gue pertanggung jawabkan: 1. Sekarang gue akan bertanggung jawab atas pilihan "ingin mengenal seseorang" dan mendoakan orang tersebut selama kurang lebih 2 tahun terakhir. Dan kini, gue akan kembali bertanggung jawab untuk memutuskan bahwa gue harus menghentikan semuanya. Menghentikan fokus doa dan hati untuknya, membatasi akses komunikasi, dan membatasi ruang gerak kerjasama yang akan kembali memicu interaksi. Sudah cukup bagi gue 2 tahun membuka hati dan kesempatan lebar-lebar namun semuanya terasa begitu kering dan tidak bertumbuh. Sebuah proses yang tidak berjalan baik dan pastinya tidak memenuhi ekspektasi saya. 2. Sekarang gue akan bertanggung jawab atas pilihan pekerjaan yang gue tanda tangani kontraknya. Meski ternyata di awal penandatanganan kontrak gue sempat punya naluri bahwa ada sesuatu hal yang "kurang rapi" di sini, tapi karena gue bu...
7 tahun kerja sebagai role yang kurang lebih serupa, ternyata membuat gue merenung dan berpikir ulang lagi belakangan ini: Apakah peranan tersebut benar-benar sesuatu yang Meista kerjakan dari hati? Atau jangan-jangan peranan tersebut Meista lakukan berdasarkan motivasi 'sekadar cari uang'? Gue menyadari bahwa realita kehidupan memang seringkali membuat idealisme jadi turun tahta. Maksudnya, sesederhana gue sampe gak tau mimpi dan cita-cita gue apa dalam berkarir karena sejak awal kerja yang gue pikirin cuma: Gimana caranya cari duit biar gak ngerepotin orang tua lagi Gimana caranya gue punya penghasilan sendiri dan gue tetap bisa memberi dari apa yang gue punya Gimana caranya gue bantuin papa untuk renov rumah --> dan ini mengarahkan gue untuk selalu nyari kerja yang prospek gajinya tinggi Menjadi seorang marketing dan pelaku media sosial selama 7 tahun berkarir ternyata membawa gue pada sebuah pemahaman terhadap diri sendiri bahwa: gue suka dengan role ini bukan karena gue...
Anjir, beneran??? 🤣🤣🤣🤣🤣 --- Pekan lalu gue ketemuan sama salah satu kakak mentor yang (hingga saat ini) menolong gue berproses menemukan dan menggali potensi-potensi dalam diri. Sebagai perempuan muda yang terlampau sering clueless dalam hidupnya, dan juga yang terlampau sering mengemukakan narasi-narasi negatif terhadap diri sendiri, rasanya mencari tahu tentang potensi diri sendiri itu menjadi hal yang sulit sekali bagi gue. Belum lagi ditambah rasa minder, ngebanding-bandingin diri sendiri dengan orang lain, suka melihat atau memandang diri dari sudut pandang si crush ( like: "Apakah dia akan menyukaiku jika aku seperti ini-itu?" --pfftt), dan fokus yang cukup berlebihan pada aspek kelemahan diri. Jadilah, akhirnya gue meminta pertolongan orang lain untuk membantu gue bisa menilai dan melihat diri secara lebih obyektif. Bersyukur banget ternyata orang-orang kayak mentor, psikolog atau terapis atau konselor atau apapun itu namanya, dikasih karunia khusus untuk bisa ba...
Comments
Post a Comment
Thank you for your comment! :D