Anjir, beneran??? 🤣🤣🤣🤣🤣 --- Pekan lalu gue ketemuan sama salah satu kakak mentor yang (hingga saat ini) menolong gue berproses menemukan dan menggali potensi-potensi dalam diri. Sebagai perempuan muda yang terlampau sering clueless dalam hidupnya, dan juga yang terlampau sering mengemukakan narasi-narasi negatif terhadap diri sendiri, rasanya mencari tahu tentang potensi diri sendiri itu menjadi hal yang sulit sekali bagi gue. Belum lagi ditambah rasa minder, ngebanding-bandingin diri sendiri dengan orang lain, suka melihat atau memandang diri dari sudut pandang si crush ( like: "Apakah dia akan menyukaiku jika aku seperti ini-itu?" --pfftt), dan fokus yang cukup berlebihan pada aspek kelemahan diri. Jadilah, akhirnya gue meminta pertolongan orang lain untuk membantu gue bisa menilai dan melihat diri secara lebih obyektif. Bersyukur banget ternyata orang-orang kayak mentor, psikolog atau terapis atau konselor atau apapun itu namanya, dikasih karunia khusus untuk bisa ba...
Photo by Sharon McCutcheon on Unsplash 나는 내 마음을 아프고 싶지않아. 난 슬프도 싶지않아. 생각과 느낌에 산만하지 않고 내 하루를 즐기고 싶어. 느낌? 어떤 느낌? 그 사람을 아직도 알지않아. 근데 나 왜 그 사람을 생각해? 생각해 싫어. 주의를 찾아도 싫어. 그만해. 지금이 아니야. 맞 시간이 아니야.
"Tuhan selalu hadir untuk kita, Tuhan selalu menolong kita. Meskipun tentu cara-Nya tidak selalu sama seperti yang kita mau." Kata-kata dalam doa yang di- mention sama pak pendeta ini bikin gue tiba-tiba berlinang air mata. Gak biasanya gue berdoa pas ibadah Minggu di gereja sampe nangis; tapi kali ini denger 2 kalimat itu langsung basah pipi gue. Why? "...tentu cara-Nya tidak selalu sama seperti yang kita mau." Lebih mudah percaya kalau Tuhan pasti akan menolong kita, tapi butuh bergumul dan merenung kembali (bagi gue pribadi) untuk percaya bahwa jenis pertolongan Tuhan gak sama dengan ekspektasi/harapan gue. --- Lately gue lagi belajar lagi tentang memasang ekspektasi. Dari tahun ke tahun gue sering dapet pelajaran berharga terkait ekspektasi pribadi terhadap berbagai hal. Seringkali, ekspektasi ini membuat gue jadinya membuat 'skenario hidup' sendiri yang menurut gue itu terbaik buat gue. Sampai pada tahap yang lebih ngotot ya gue jadi ngerasa "renc...
I often thought that I'm the most anxious and easy-to-panic person when it comes to playing piano in a new community & environment. But yesterday, I proved it wrong. Dad is the most "deg-degan" and easy-to-forget person after all 🤣🤣🤣 ...and he would depend on me to remember all the music arrangement and help him 🙄😅 Sometimes it's beautiful to see this kind of love-hate-relationship with my father. It's like...bapak gue nyebelin banget! ...tapi yah gimana gue juga sayang sebagai anak yekan...
“Ma, aku mau nikah.” “Oh yaudah. Ada pasangannya?” “Belum sih.” “Yee gimana.” “Abis temen-temenku udah, aku belum.” “Apanya?” “Nikahnyaaaa. Temen-temenku udah pada nikah, bahkan ada yang udah punya anak, tapi hidupku masih gini-gini aja.” “Ya terus?” “Ya makanya aku mau nikah jugaaa.” Wanita berusia kepala lima itu menghela nafas sejenak sebelum merespon putri bungsunya. “Terus kalau udah nikah, hidup kamu jadi bebas masalah?” Lala terdiam. Dia tak pernah memikirkan keterkaitan antara menikah dan masalah dalam kehidupan. “Ya tapi kan aku seenggaknya jadi gak kalah sama temen-temenku.” “Kamu lagi lomba balap karung?” Mereka terkikik geli. “Kok jadi lomba balap karung sih, Ma.” “Soalnya perkara nikah itu gak kayak lomba, La. Gak ada satu garis finish yang sama buat semua orang. Gak ada yang menang atau kalah. Inget gak momen wisuda kamu waktu itu?” “Inget.” “Berjuang banget kan pengen lulus? Begadang, bolak-balik bimbingan, ngelarin skripsi demi bisa dapet gelar, terus wisuda. Hari-H kit...
Due to depression, gue sekarang lebih memilih untuk bangun di malam hari dan tidur saat matahari sudah terbit. Entah mengapa, rasanya malam hari menjadi momen yang menakutkan buat gue. Rasanya kayak mau mati aja. Rasanya kehilangan harapan. Rasanya kayak gak punya tujuan hidup. But...realizing that I'm still alive just after I woke up, every single morning (or afternoon), I think switching my sleep routine is better for now. At least until I find a new job and get my daily routine back.
Accept it is as it is. Nasehat utama dari psikolog yang pernah gue konsultasiin. Sedang berlatih pelan-pelan untuk menerapkan mindfulness dan gak perlu melulu menilai kondisi, situasi, dan orang lain terlalu cepat. Ini kayaknya esensi dari "menikmati hidup". Bukan artinya hidup lurus gatau mo kemana, tapi ya enjoying the present as a present. Seringkali yang bikin jatuh adalah ekspektasi. Jadi ketika gue udah bikin perencanaan dan rencana itu gak sesuai realita, usaha terasa sia-sia. Nah sekarang, gue mau coba untuk bangkit lagi, tetep bikin perencanaan lagi, tapi lebih legowo aja kalau hasilnya gak sesuai ekspektasi. Yang penting udah ada usaha. Kayak...ya yaudah. Ayo, maju terus. Melangkah lagi. Kalo capek istirahat. Kalo sedih nangis. Mungkin ini bisa jadi terapi diri sendiri yang baik untuk mengurangi intensitas rasa insecure dan FOMO yang seringkali mengganggu 😔
Terlepas dari karena alasan-alasan 'masa lalu', baik yang terjadi pada diri sendiri maupun melihat sendiri pernikahan-pernikahan yang...gitulah, deep inside my heart ketakutan yang juga gue sadari adalah: Gue takut keberadaan gue jadi batu sandungan buat pasangan gue kelak. I don't know why, but it's real. That's what I feel. Kedengerannya kayak kurang percaya diri gitu ya, tapi...ya entah mengapa rasanya lebih sakit aja buat gue kalau ternyata hidup gue malah jadi salib menyakitkan buat orang yang gue cintai seumur hidup. Second ago I pray like: "Tuhan, kalau keberadaan aku malah jadi pengganggu, batu sandungan, dan gak jadi berkat buat teman (hidup)-ku, I'd rather not to marry anyone."
Comments
Post a Comment
Thank you for your comment! :D