Photo by Jason Leung on Unsplash (Tulisan ini telah tayang pertama kali di situs WARUNGSATEKAMU.ORG dan telah melewati proses penyuntingan oleh tim editorial) --- Rabu, 1 Januari 2020 Pagi itu, sekitar jam setengah lima, aku dan keluarga cukup panik saat mengetahui genangan air banjir mulai memasuki rumah. Sambil memindahkan beberapa barang ke tempat yang lebih tinggi, aku masih terus berharap dan berdoa hujan deras bisa segera reda supaya genangan air tidak makin naik. Namun alam sepertinya berkata lain. Hujan tak kunjung reda, tetap deras, dan air di dalam rumah naik perlahan-lahan, menyebabkan bencana banjir Jakarta dan wilayah sekitarnya kembali terjadi di awal tahun 2020. Dalam kebingungan dan ketakutanku, pertanyaan yang kulontarkan pada Tuhan dalam doa adalah: "Tuhan, ini aku harus ngapain lagiiiii?". Akhirnya aku beranikan diri mengambil keputusan. "Pa, ini hujannya enggak berhenti. Airnya makin tinggi. Apa enggak sebaiknya kita keluar d...
Katanya sombong itu gak baik. Tapi rendah diri juga gak baik. Terus sulit gimana caranya biar bisa hidup 'in-between' ; artinya ya gak sombong, tapi gak rendah diri juga. Tetap punya self-esteem yang sehat, tapi tidak berlebihan yang nanti ujung-ujungnya bisa sombong. --- Gue sering berada pada situasi di mana gue ngerasa semua orang membenci gue. Padahal saat itu lagi gak ada peristiwa buruk yang terjadi. Semua terasa baik-baik saja. But somehow, there's a voice in my head telling me that: "You're not enough, Meista! You're not good enough!" Gue dilatih dan dididik menjadi seorang perempuan yang harus rendah hati dan apa adanya sedari kecil. Terlepas dari berbagai achievement dan berbagai pujian yang diterima dari orang lain, gue tetap mempertahankan value itu: tetap rendah hati . TAPI... Entah kenapa gue akhir-akhir ini jadi ngeblur dan susah membedakan apa itu rendah hati dan apa itu rendah diri ? Alih-alih rendah hati, gue jujur lagi bermasalah dengan...
Photo by Duy Pham on Unsplash Just sharing my thought. ----- Gue adalah salah satu orang yang cukup apolitis. Kenapa 'cukup'? Karena kadang peduli sama dunia politik, kadang enggak. Kalau mau dibilang militan sih ya enggak banget. Tapi gue enggak pernah melewatkan satu pemilihan umum apapun itu. Pilpres, pileg, sampai pilkada gue ikuti semua. Alasannya sih ya sesepele ikut peraturan dan diajak orang tua. That's it. Gak terlalu tau dan peduli apakah keikutsertaan gue nyoblos tuh berdampak atau enggak buat negara. ----- Pasca resign dari salah satu perusahaan media besar di Indonesia, gue dapat kesempatan untuk membantu salah satu caleg yang akan maju sebagai anggota legislatif DPR RI. Freelance ajah. Dan ini pun memang karena channel dari sobat gue sendiri. Bantuan yang gue lakukan pun bukan yang kayak tim turun lapangan kampanye-kampanye gitu. Cuma jadi mimin socmed. Social Media Strategist lah kalo bahasa kerennya mah. Hahaha....
I often thought that I'm the most anxious and easy-to-panic person when it comes to playing piano in a new community & environment. But yesterday, I proved it wrong. Dad is the most "deg-degan" and easy-to-forget person after all 🤣🤣🤣 ...and he would depend on me to remember all the music arrangement and help him 🙄😅 Sometimes it's beautiful to see this kind of love-hate-relationship with my father. It's like...bapak gue nyebelin banget! ...tapi yah gimana gue juga sayang sebagai anak yekan...
Anjir, beneran??? 🤣🤣🤣🤣🤣 --- Pekan lalu gue ketemuan sama salah satu kakak mentor yang (hingga saat ini) menolong gue berproses menemukan dan menggali potensi-potensi dalam diri. Sebagai perempuan muda yang terlampau sering clueless dalam hidupnya, dan juga yang terlampau sering mengemukakan narasi-narasi negatif terhadap diri sendiri, rasanya mencari tahu tentang potensi diri sendiri itu menjadi hal yang sulit sekali bagi gue. Belum lagi ditambah rasa minder, ngebanding-bandingin diri sendiri dengan orang lain, suka melihat atau memandang diri dari sudut pandang si crush ( like: "Apakah dia akan menyukaiku jika aku seperti ini-itu?" --pfftt), dan fokus yang cukup berlebihan pada aspek kelemahan diri. Jadilah, akhirnya gue meminta pertolongan orang lain untuk membantu gue bisa menilai dan melihat diri secara lebih obyektif. Bersyukur banget ternyata orang-orang kayak mentor, psikolog atau terapis atau konselor atau apapun itu namanya, dikasih karunia khusus untuk bisa ba...
Beberapa bulan belakangan ini gue lagi banyak belajar hal baru tentang: relasi. Relasi antar manusia yang unik, dinamis, dan kompleks. Setelah mengalami sendiri berbagai macam dinamika yang terjadi dalam relasi, gue pun menangkap pola yang sama ternyata dialami juga sama kebanyakan orang. Maksudnya, dinamika dalam relasi tuh ya gak cuma gue doang gitu yang ngalemin. Seluruh umat manusia di dunia juga mengalami. Cuma bentuk dinamika dan gimana cara masing-masing orang meresponinya itu aja yang beda-beda. Ada temen yang cerita di tempat kerjanya dia kayak dianggep anak gitu sama bosnya. Saking "dianggep anak", akhirnya yang kerasa sama si temen gue ini adalah si bos gak ngehargain bahwa anak buahnya tuh punya orang tua kandung juga, lho. Well, gue sebagai pendengar cerita cuma bisa merespon: "Yah mungkin bos lo kepengen punya anak tapi belum bisa, kali. Atau ya personal-relationship-attachment -nya dia tinggi aja ke staf-stafnya. Mungkin." Ada juga temen lain yang cur...
Photo by Jamie Street on Unsplash 5 Februari 2015... Selamat pagi! Hari ini saya benar-benar terberkati dengan renungan hari ini yang judulnya: HABITS OF A HEALTHY MIND Healthy mind... Menyadari bahwa "penyakit" saya sebagai orang yang melankolis yaitu selalu mikirin-segala-sesuatu-dari-yang-penting-sampe-yang-gak-penting-banget, renungan Firman Tuhan pagi ini benar-benar memberi saya banyak pelajaran lagi. Sebagai manusia normal, saya sering banget ngeluh, marah-marah, dan kesal sama hal-hal yang terjadi tidak sesuai dengan ekspektasi saya. Hal ini saya alamin bahkan sejak saya sekolah dulu. Semakin kesini, umur saya makin nambah, ternyata tekanannya makin berat. Apalagi dengan pola pikir saya yang keseringan bikin "sinetron-di-otak", saya pun jadinya sering diperhadapkan dengan hal-hal yang menguji kebergantungan saya kepada Tuhan. Lalu akhirnya muncul pertanyaan-pertanyaan berikut dalam pikiran saya: Seberapa jauh saya menggantungkan hidup ini sama Tuhan? Seb...
Photo by Zuzana on Unsplash (Tulisan ini telah tayang pertama kali di situs WARUNGSATEKAMU.ORG dan telah melewati proses penyuntingan oleh tim editorial). Ooohh iyaaah, btw tulisan ini sebenarnya lanjutan dari tulisan yang ini ...😁 --- Pada bulan April lalu, aku mendapatkan pelajaran berharga dari peristiwa patah hati yang kualami. Aku belajar bahwa berharap diterima oleh manusia saja tidak akan pernah bisa membuatku merasa cukup atau memperoleh kepuasan sejati (aku sempat menuliskan prosesnya di sini ). Aku pikir peristiwa penolakan itu sudah cukup membuatku sadar akan pentingnya berelasi dengan Tuhan dengan motivasi hati yang murni; bukan hanya rutinitas keagamaan belaka. Namun ternyata Tuhan masih ingin membentuk aku dan menyingkapkan hal-hal baru tentang diriku sendiri, meski rasanya sakit dan aku harus terluka secara emosi dalam prosesnya. Menyadari Masalah di Dalam Diri dari Konflik Relasi Salah satu hal yang tidak aku sukai dari masa-mas...
Photo by Marten Bjork on Unsplash (Tulisan ini telah tayang pertama kali di situs WARUNGSATEKAMU.ORG dan telah melewati proses penyuntingan oleh tim editorial) --- Bagiku sukacita adalah ketika aku mendapatkan apa yang aku inginkan; semua keinginanku terpenuhi, semua ekspektasiku terjadi. Aku pikir, sukacita itu hanya identik dengan perasaan senang saja. Nyatanya, tidak selalu demikian. Termasuk dalam hal pekerjaan. Aku memulai karirku sebagai marketing di sebuah bisnis restoran. Restoran tersebut merupakan tempat favoritku untuk nongkrong bersama teman-teman semasa kuliah. Ketika mengetahui bahwa aku diterima bekerja di sana, rasanya senang dan sangat bersyukur. Selain karena tempat itu adalah restoran favoritku, aku juga senang karena bisa merasakan bagaimana sensasi menjadi seorang pekerja setelah lulus dari universitas. Awalnya semua terlihat menyenangkan. Aku juga berpikir bahwa aku akan bertahan sangat lama bekerja di bisnis restoran favor...
Photo by Seb Mooze on Unsplash Manusia tuh ternyata memang makhluk yang perlu diingetin terus ya... --- Hari Jumat kemarin (15 Januari 2021) Persekutuan Alumni Kristen Jakarta (PAKJ) kembali diselenggarakan. Ini adalah ibadah perdana di tahun 2021. Tema yang diusung adalah "Menjaring Angin" , dengan eksposisi dari kitab Pengkhotbah 1-2 yang dibawakan oleh Bu Inawaty Teddy. Aku salah satu jemaat-tizen yang enggak bisa ikut bersekutu di hari-H karena lagi kebagian jadwal work from office (WFO), dan baru balik kantor itu jam 7 malam (ibadah dimulai tepat jam 7 juga). Karena enggak bakal fokus ibadah onlen sambil ngejer-ngejer Transjakarta yakhaaan, akhirnya aku memilih untuk mengikuti ibadahnya dalam siaran tunda nanti. Dan bersyukur, puji Tuhan hari inilah kesempatan baiknya. Hari Minggu, hari Sabat, hari istirahat, dan hari no-mikir-mikir-day . Hari di mana aku bisa memilih untuk mengisi jiwa yang haus dan lagi acakadut karena kesibukan harian Se...
Comments
Post a Comment
Thank you for your comment! :D