The biggest liar I've ever heard (and ever believed when the hard time strikes...)
...is that God cannot be trusted.
Get link
Facebook
X
Pinterest
Email
Other Apps
Comments
Popular posts from this blog
-
Every time I couldn't make a decision due to confusion, I think I should ask myself this question: Is it because "I don't know how to do it" , or "I actually don't want to do it" ?
Clueless. Adalah 1 kata 'favorit' di hidupku belakangan ini. Apalagi jika itu bersentuhan dengan hal-hal seputar karir profesional alias pekerjaan, dan juga pencarian teman hidup. ===== Kita kesampingkan dulu seputar karir profesional karena di sini aku mau cerita tentang bingung-bingungnya aku dalam hal mencari teman hidup. Pertanyaannya: Emang harus dicari? Emang wajib? Emang harus menikah? Kalo gak nikah emang kenapa? Bisa mandiri kok gue. Kalo gak nikah dosa gak? Gimana caranya kita tahu Tuhan pengen kita nikah atau engga? ...daaaan serentet pertanyaan-pertanyaan serupa yang sering bikin pusing kepala. Well, jujur, terakhir kali aku menjalin relasi pacaran itu kelas 2 SMA... which is... sekitar tahun 2008. Saat itu si pacar adalah kakak kelasku yang adalah ketua rokris (eaeaaa ga jauh2 dari persekutuan emang ๐). Lalu kami putus di tahun 2009, dan si pacar pun lulus SMA. Ketika aku lulus di tahun 2010, sempat ada harapan balikan karena si pacar, eh mantan maksudnya, kembal...
Photo by Liana Mikah on Unsplash Haaaiii, Friendtizen! ๐ Sesuai janji gue di Instastory beberapa hari yang lalu, di sini gue mau nyeritain pengalaman jadi korban banjir Jakarta 2020 plus nyampein ungkapan syukur dan terima kasih luar biasa untuk semua pihak yang sudah menolong gue dan keluarga. Sebelumnya gue udah pernah nulis tentang apa yang terjadi di tanggal 1 Januari 2020, tepat di hari pertama pergantian tahun. Bisa baca di sini yaa kalo mau tau ๐ --- Pelajaran berharga yang gue dapetin ketika ngalemin musibah banjir kemarin adalah bahwa pertolongan Tuhan enggak pernah terlambat. Bukan cuma itu. Bahkan pertolongan Tuhan itu jauh lebih dahsyat dan melimpah daripada apa yang bisa gue bayangkan atau harapkan. Bayangin aja deh, hal yang gue minta tuh cuma 1: kain kering bekas. Dan lo tau apa yang gue dan sekeluarga dapet? Muuuuch more than kain kering bekas! Okay, let me tell you the rest of the story... ----- Photo by...
Photo by Lukas Stoermer on Unsplash Jakarta. Jumat, 27 Mei 2016 Malam itu (harusnya) jadi salah satu malam membahagiakan buatku. Bayangin aja: hanya dalam 1 malam aku bisa menyaksikan secara langsung 2 grup musik favorit sepanjang masa. Kahitna dan Yovie and Nuno . Dua grup musik besutan Yovie Widianto yang aku idolakan sejak kecil sampai sekarang. Bahkan kini gaya musik Yovie Widianto menjadi salah satu inspirasiku dalam bermain piano dan mencari aransemen--ini cukup menjelaskan mengapa di beberapa kesempatan pelayanan menjadi pemusik agaknya aransemennya rada ke-Kahitna-Kahitna-an. Hahaha ✌๐ "Mei, lu mau nonton Kahitna gak?", seorang teman di masa kuliah tiba-tiba mengirim pesan singkat beberapa minggu sebelum hari-H. "Wah, kapan di mana?", tanyaku. "Di SCBD Sudirman. Ini acaranya Global TV. Gue kebagian tiket gratis, cuma gue ga begitu suka Kahitna. Terus gue inget elu." Sungguh sebuah berkat tak terduga. Temanku itu kebetulan memang bekerja di stasi...
Photo by Jessica Christian on Unsplash (Tulisan ini telah tayang pertama kali di situs WARUNGSATEKAMU.ORG dan telah melewati proses penyuntingan oleh tim editorial) --- Aku lahir bukan sebagai orang Kristen, setidaknya sampai aku berusia 6 tahun ketika ayahku menanyakan apakah aku bersedia mengikuti kepercayaannya. Di masa-masa setelahnya, sangat sulit untuk beradaptasi dengan identitas baruku itu karena budaya serta lingkungan sosial seakan-akan mencap aku 'berbeda'. Beberapa konflik terjadi karena 'perubahan' ini, hingga akhirnya aku menyimpulkan bahwa diriku tidak berharga. Aku ditolak dan aku pantas untuk ditolak. Pemikiran akan identitas tersebut ternyata sangat berpengaruh terhadap pola pikir dan kehidupanku sehari-hari. Aku jadi serba takut untuk melakukan sesuatu karena takut salah, takut ditolak, takut orang membenciku karena aku melakukan ini dan itu, dan segala jenis takut lainnya terus menghantuiku sepanjang masa kecil hingga remaja. Aku tumbuh ...
Photo by Stephen Phillips - Hostreviews.co.uk on Unsplash (Rabu, 9 Juni 2021 16:19, Starbucks Pondok Indah Mal 2) Jeez, I'm scared. I opened a new mail on my Gmail inbox this afternoon and....JEEZ I'M FREAKIN' SCARED! No, no, please don't misunderstood. This is a mixed-up-feeling ever. Satu sisi seneng banget abis baca e-mail, satu sisi langsung khawatir. Ketakutan. Apa sih yang gue takutkan: 1. I'm like enough to dealing with myself, my expectation, especially when I'm working with people in professional way. I know, and I have learned that...whatever the job title is, wherever the company is--even the big and established one, I couldn't run away from: dealing with people . 2. Ketika sudah tahu hal-hal yang sudah dipelajari, pertanyaan berikutnya adalah: apakah gue mampu menerapkannya di petualangan berikutnya? 3. Apakah gue siap untuk 'gagal' lagi? Entahlah, namun gue merasa di fase gue yang sekarang ini gue harus mulai belajar untuk 'berani g...
Umur 26 tahun itu berarti... Seperempat abad lewat dikit. Dibilang orang dewasa masih kayak anak kicik, dibilang teenager juga ketuaan. ----- Ulang tahun makin nambah usia gue bukannya semakin pengen dirayain tapi malah semakin mager untuk merayakan pertambahan usia diri sendiri. Hari ini aja gue udah merencanakan untuk males-malesan dan tidur. Tapi ternyata kemaren, kemaren banget hari Kamis 16 Mei, gue dapet panggilan wawancara kerja. Sebagai orang waras lainnya yang lagi cari kerja ya gue cancel lah ya si rencana bermalas-malasan itu dan mulai prepare segala keperluannya. Salah satu faktor yang bikin gue mulai mager merayakan ultah gue sendiri mungkin karena gue punya pengalaman buruk pas sweet seventeen yang ternyata gak se- sweet apa kata dunia. Sejak peristiwa tak menyenangkan tersebut--yang gak perlu gue tulis karena males juga--gue jadi skeptis sama yang namanya ngerayain ulang tahun. Khususnya ultah gue sendiri. Kalo ultah orang lain sih gue masih sem...
Photo by Simon Maage on Unsplash Sebuah pertanyaan untuk diri sendiri saat work-from-home (WFH) hari ini... --- Hari ini gue kembali dapet jadwal WFH. Sebenernya, PSBB jilid 2 ini gak ngaruh-ngaruh amat ke kebijakan pekerjaan kantor. Pertama, kantor kami itu bentuknya rumah kontrakan gitu. Bukan gedung yang akses masuknya perlu nge- tap kartu identitas karyawan. Kedua, gue bekerja di sebuah perusahaan yang baru banget berdiri alias start-up . Tim manajemen-nya aja cuma berempat, jadi kalo meeting koordinasi pun ya ketemunya 4L: Lo Lagi Lo Lagi. Hahaha. Maka dari itu, kebijakan WFO:WFH di kantor gue tetap 4:2. 4 hari ngantor, 2 hari kerja di rumah, dengan sistem shift . Ditambah lagi dengan kebijakan jadwal dan ketersediaan transportasi yang enggak berubah-ubah amat. Transjakarta tetap beroperasi hingga jam 22:00. Ojek daring pun tetap bisa diakses. Gak ada lagi alasan gue untuk ogah-ogahan ke kantor karena semuanya telah tersed...
Comments
Post a Comment
Thank you for your comment! :D