Photo by Marion Michele on Unsplash It's tiring. Menyadari sebuah fakta bahwa selama ini gue sering melakukan sesuatu berdasarkan motivasi: demi menjaga nama baik. Nama baik diri sendiri, nama baik keluarga, nama baik kampus tempat kuliah dulu, nama baik perusahaan tempat gue bekerja. Dan itu semua sangat prestigious. Bergengsi. Mengangkat harkat dan martabat gue sebagai manusia yang diakui eksistensinya oleh orang-orang di sekitar gue. Sometimes, gue hanya fokus pada menjaga nama baik itu. Tak peduli seberapa tak nyamannya diri ini untuk melakukan hal tersebut. Yang penting nama baik tetap terjaga. Yang penting bisa ngikutin ekspektasinya orang lain. Ekspektasi orang lain mulai jadi hal yang sangat penting buat gue. Padahal, ekspektasi diri sendiri aja sulit gue urusin. Ini apalagi ekspektasi orang lain yang...kadang mereka gak tau detil kehidupan gue tapi semudah itu memberikan judgement . Who are you, people? Terus...lama-lama gue capek juga ya mik...
Beberapa hari yang lalu, gue balik ngantor naik Transjakarta. Waktu itu lagi hektik banget di kantor, jadwal padet, banyak deadline, banyak rapat, jadi rasanya energi sisaan cuma bertahan buat otewe pulang. Nah, buat yang relate dengan aktivitas 'naik TJ', pasti ngerti lah ya rasanya terguncang sesekali di dalam bus. Namanya juga transportasi darat yekan, pasti ada aja jegluk-jegluknya (apa coba 😅). Saat itu gue duduk di area penumpang umum, atau yang selain Area Khusus Wanita, karena tempat duduknya ngadep depan, bukan nyamping. Gue lagi pengen tidur banget, jadi butuh duduk deket jendela biar bisa senderin kepala. Di tengah perjalanan, gue sempet cemas karena guncangannya si TJ lumayan agak ganggu. Sebenarnya seperti yang gue mention di atas lah ya, naik TJ itu udah pasti siap dengan guncangan-guncangan yang ada. Cuman mungkin waktu itu kondisi gue lagi lelah banget, jadi yang ada malah insekyur. "Ini kenapa ya sama busnya? Gak ada kendala teknis kan? Apa jangan-jangan ...
Photo by Beng Ragon on Unsplash Engga siap untuk apa, Meista? Engga siap untuk sakit hati lagi di ladang pelayanan. Engga siap untuk gagal ujian bahasa. Engga siap untuk gagal lagi di proses rekrutmen, dan... engga siap untuk jatuh cinta lagi. --- Dua hari terakhir ini gue tiba-tiba sakit kepala. Nyut-nyutan banget. Gak paham penyebabnya apa. Tidur cukup. Makan aman. Les bahasa jalan terus. Kerjaan baru...ya emang belom dapet sik, tapi kan ini lagi on progress , lagi ada written test yang lagi dikerjain. Jadi apa? Apaaa yang bikin gue sakit kepalaaaa? Wkwkwk. Hari ini, Minggu, 23 November 2025. Gara-gara masih sakit kepala, gue akhirnya batal CFD-an. Padahal dari kemaren udah niat banget pengen ikut CFD ( Car Free Day /Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB)), sekadar speedwalking dari Bundaran HI sampe Gelora Bung Karno (GBK) juga udah cukup kok. Namun batal, dan akhirnya gue pindahin jadwal olahraganya ke sore hari: main bulutangkis bareng si adek. Selama perjalanan menuju GBK tadi sor...
Due to depression, gue sekarang lebih memilih untuk bangun di malam hari dan tidur saat matahari sudah terbit. Entah mengapa, rasanya malam hari menjadi momen yang menakutkan buat gue. Rasanya kayak mau mati aja. Rasanya kehilangan harapan. Rasanya kayak gak punya tujuan hidup. But...realizing that I'm still alive just after I woke up, every single morning (or afternoon), I think switching my sleep routine is better for now. At least until I find a new job and get my daily routine back.
Salah satu rutinitas baru gue sebagai warga kantoran (lagi) adalah: memilih rute pergi dan pulang kantor. Biasanya, demi pengelolaan finansial yang lebih efektif, efisien, dan tentunya ekonomis, gue akan memilih rute naik transportasi umum. Namun ada masa di mana gue lagi kelelahan banget, mager berdiri di TJ/MRT, jadi kadang gue suka minta jemput sama cowok-cowok yang beda tiap harinya (a.k.a. babang greb atau goje 😅😂). Gue suka banget naik motor, dibonceng, dan menempuh perjalanan jauh. Waktu tahun lalu masih kerja di area Karawaci, gue beberapa kali menempuh perjalanan otw pulang-pergi naik ojol. Costly, memang, tapi gue "membayar" pemandangan dan momen-momen merenung. Gatau ya, bagi gue paling enak dan nyaman itu merenung di dalam perjalanan menggunakan motor, bukan transportasi umum. Mungkin karena berasanya lebih 'private' kali ya; ditambah nikmatin angin sepoi-sepoi yang bikin muka adem, jadi seru aja gitu perjalanannya. --- Nah, dalam konteks per-otw-an naik...
Photo by Liana Mikah on Unsplash Haaaiii, Friendtizen! 😍 Sesuai janji gue di Instastory beberapa hari yang lalu, di sini gue mau nyeritain pengalaman jadi korban banjir Jakarta 2020 plus nyampein ungkapan syukur dan terima kasih luar biasa untuk semua pihak yang sudah menolong gue dan keluarga. Sebelumnya gue udah pernah nulis tentang apa yang terjadi di tanggal 1 Januari 2020, tepat di hari pertama pergantian tahun. Bisa baca di sini yaa kalo mau tau 😉 --- Pelajaran berharga yang gue dapetin ketika ngalemin musibah banjir kemarin adalah bahwa pertolongan Tuhan enggak pernah terlambat. Bukan cuma itu. Bahkan pertolongan Tuhan itu jauh lebih dahsyat dan melimpah daripada apa yang bisa gue bayangkan atau harapkan. Bayangin aja deh, hal yang gue minta tuh cuma 1: kain kering bekas. Dan lo tau apa yang gue dan sekeluarga dapet? Muuuuch more than kain kering bekas! Okay, let me tell you the rest of the story... ----- Photo by...
Photo by Gavin Allanwood on Unsplash Hai, Friendtizen! H+1 packing barang-barang dari kantor hari Kamis kemaren (22/4) sesungguhnya gue sudah membuat segudang to-do list hal-hal berfaedah nan menyenangkan yang akan gue lakukan pasca resign . Well, sebetulnya gue belum resmi resign. Jatohnya gue ngabisin jatah cuti, dan per 1 Mei 2021 barulah gue resmi tidak bekerja lagi di tempat kerja yang sekarang. Nah, selama masa-masa cuti ini, jujur udah banyak banget agenda-agenda seru yang gue rancang sendiri demi membahagiakan diri gue atau demi berkontribusi menolong orang lain. Mulai dari ngerjain pelayanan, nulis blog, bikin konten IG, nulis buat WarungSaTeKaMu, main piano + nge-cover-cover lagu lagi, jalan-jalan random entah kemana, dan lain-lain. Seperti biasa, memang gue anaknya gak bisa diem macem kelinci yang jumpalitan kesana-kemari. ...and the reality told me different 😂😂😂 Hari Jumat (23/4) itu gue berencana untuk balikin keyboard Perkantas di sekret mereka daerah Juanda, kem...
Pagi ini di kantor...ada temen yang pasang lagu Vierra. Jujur sampe sekarang gue memang masih suka banget sama lagu-lagunya Vierra. Enak banget komposisi musiknya Mas Kevin Aprilio! 😍 Terus gue jadi throwback... ke masa-masa ketika gue lagi tergila-gila sama lagunya Vierra, di saat yang sama juga gue tengah suka dengan seseorang. Dia kakak kelas (kakak kelas lageeee, yekan 🤣🤣🤣). Dia pemain drum. Beberapa kali pernah nge-band bareng dan...yah memang momen-momen main musik tuh suka jadi celah bagi gue pada akhirnya menyukai seseorang. Turns out... gue jadi merenung: Selama ini cowok-cowok yang gue lirik itu pasti yang bisa main musik. Beberapa diantaranya jago bahkan dewa banget sampe bikin hati klepek-klepek. Yang jago main piano pernah gue lirik--yaiyalah, ini sih udah pasti bawaan karena pasti liat role model ayah sendiri yang juga jago main pianonya, guru pulak! Terus yang jago main gitar juga pernah gue taksir. Kemudian yang di masa-masa suka Vierra ini gue naksir sama seni...
Photo by O.C. Gonzalez on Unsplash "So I say thank you for the music, the songs I'm singing Thanks for all the joy they're bringing Who can live without it? I ask in all honesty: What would life be without a song or a dance what are we? So I say thank you for the music, for giving it to me" ----- Penggalan lagu di atas adalah lagu yang dipopulerkan oleh grup musik ABBA di era tahun 1980-an. Pertama kali denger sih biasa aja, tapi ketika diresapi kata-katanya, ternyata dalem banget loh. Saya jadi ikutan mikir: kalo di dunia ini gak ada musik, bakal kayak apa ya hidup ini? Bersyukur banget sama Tuhan karena saya terlahir di keluarga seniman. Ayah pemain dan pengajar organ, keyboard, piano, sedangkan ibu...ya bukan penyanyi sih memang, tapi beliau kalo nyanyi suaranya cakep banget dah. Beda banget sama ayah yang kalo nyanyi... please, no 😜 Saya mulai belajar main piano sejak kelas 3 SD. Dulu kami belum punya piano, tapi kami punya organ ...
Photo by Seb Mooze on Unsplash Manusia tuh ternyata memang makhluk yang perlu diingetin terus ya... --- Hari Jumat kemarin (15 Januari 2021) Persekutuan Alumni Kristen Jakarta (PAKJ) kembali diselenggarakan. Ini adalah ibadah perdana di tahun 2021. Tema yang diusung adalah "Menjaring Angin" , dengan eksposisi dari kitab Pengkhotbah 1-2 yang dibawakan oleh Bu Inawaty Teddy. Aku salah satu jemaat-tizen yang enggak bisa ikut bersekutu di hari-H karena lagi kebagian jadwal work from office (WFO), dan baru balik kantor itu jam 7 malam (ibadah dimulai tepat jam 7 juga). Karena enggak bakal fokus ibadah onlen sambil ngejer-ngejer Transjakarta yakhaaan, akhirnya aku memilih untuk mengikuti ibadahnya dalam siaran tunda nanti. Dan bersyukur, puji Tuhan hari inilah kesempatan baiknya. Hari Minggu, hari Sabat, hari istirahat, dan hari no-mikir-mikir-day . Hari di mana aku bisa memilih untuk mengisi jiwa yang haus dan lagi acakadut karena kesibukan harian Se...
Comments
Post a Comment
Thank you for your comment! :D