Katanya sombong itu gak baik. Tapi rendah diri juga gak baik. Terus sulit gimana caranya biar bisa hidup 'in-between' ; artinya ya gak sombong, tapi gak rendah diri juga. Tetap punya self-esteem yang sehat, tapi tidak berlebihan yang nanti ujung-ujungnya bisa sombong. --- Gue sering berada pada situasi di mana gue ngerasa semua orang membenci gue. Padahal saat itu lagi gak ada peristiwa buruk yang terjadi. Semua terasa baik-baik saja. But somehow, there's a voice in my head telling me that: "You're not enough, Meista! You're not good enough!" Gue dilatih dan dididik menjadi seorang perempuan yang harus rendah hati dan apa adanya sedari kecil. Terlepas dari berbagai achievement dan berbagai pujian yang diterima dari orang lain, gue tetap mempertahankan value itu: tetap rendah hati . TAPI... Entah kenapa gue akhir-akhir ini jadi ngeblur dan susah membedakan apa itu rendah hati dan apa itu rendah diri ? Alih-alih rendah hati, gue jujur lagi bermasalah dengan...
Beberapa bulan belakangan ini gue lagi banyak belajar hal baru tentang: relasi. Relasi antar manusia yang unik, dinamis, dan kompleks. Setelah mengalami sendiri berbagai macam dinamika yang terjadi dalam relasi, gue pun menangkap pola yang sama ternyata dialami juga sama kebanyakan orang. Maksudnya, dinamika dalam relasi tuh ya gak cuma gue doang gitu yang ngalemin. Seluruh umat manusia di dunia juga mengalami. Cuma bentuk dinamika dan gimana cara masing-masing orang meresponinya itu aja yang beda-beda. Ada temen yang cerita di tempat kerjanya dia kayak dianggep anak gitu sama bosnya. Saking "dianggep anak", akhirnya yang kerasa sama si temen gue ini adalah si bos gak ngehargain bahwa anak buahnya tuh punya orang tua kandung juga, lho. Well, gue sebagai pendengar cerita cuma bisa merespon: "Yah mungkin bos lo kepengen punya anak tapi belum bisa, kali. Atau ya personal-relationship-attachment -nya dia tinggi aja ke staf-stafnya. Mungkin." Ada juga temen lain yang cur...
Beberapa hari yang lalu, gue balik ngantor naik Transjakarta. Waktu itu lagi hektik banget di kantor, jadwal padet, banyak deadline, banyak rapat, jadi rasanya energi sisaan cuma bertahan buat otewe pulang. Nah, buat yang relate dengan aktivitas 'naik TJ', pasti ngerti lah ya rasanya terguncang sesekali di dalam bus. Namanya juga transportasi darat yekan, pasti ada aja jegluk-jegluknya (apa coba 😅). Saat itu gue duduk di area penumpang umum, atau yang selain Area Khusus Wanita, karena tempat duduknya ngadep depan, bukan nyamping. Gue lagi pengen tidur banget, jadi butuh duduk deket jendela biar bisa senderin kepala. Di tengah perjalanan, gue sempet cemas karena guncangannya si TJ lumayan agak ganggu. Sebenarnya seperti yang gue mention di atas lah ya, naik TJ itu udah pasti siap dengan guncangan-guncangan yang ada. Cuman mungkin waktu itu kondisi gue lagi lelah banget, jadi yang ada malah insekyur. "Ini kenapa ya sama busnya? Gak ada kendala teknis kan? Apa jangan-jangan ...
Beberapa hari lalu gue sempet nulisin 3 poin pembelajaran besar yang gue dapetin sepanjang berkarir selama kurang lebih 7 tahun. Cek tulisannya dimari ya 😉 Nah, kali ini gue mau coba tambahkan beberapa poin reflektif gue lagi yang semoga bisa meng- encourage teman-teman khususnya para fresh graduate yang baru mau mulai cari pekerjaan. Tapi sebelum itu, gue mo bikin disclaimer dulu nih, hahahah. --- Di postingan gue sebelumnya, gue share bahwa gue itu jadi job-hopper selama beberapa tahun belakangan ini. Mungkin beberapa dari kalian bisa muncul pertanyaan di kepalanya macem: "Emang boleh ya lompat-lompat kerjaan gitu?" "Kalo job-hopping gitu bukannya bikin CV dan LinkedIn jadi gak bagus ya?" "Seharusnya kita itu loyal atau enggak sih Kak sama tempat kerja kita?" Nah, zuzur sezuzur-zuzurnya, gue gak bisa menghitam-putihkan boleh enggaknya kita melakukan job-hopping alias loncat-loncat pekerjaan. Tapi juga...gue tidak bisa memastikan apakah loyal kepada te...
Photo by Lukas Stoermer on Unsplash Jakarta. Jumat, 27 Mei 2016 Malam itu (harusnya) jadi salah satu malam membahagiakan buatku. Bayangin aja: hanya dalam 1 malam aku bisa menyaksikan secara langsung 2 grup musik favorit sepanjang masa. Kahitna dan Yovie and Nuno . Dua grup musik besutan Yovie Widianto yang aku idolakan sejak kecil sampai sekarang. Bahkan kini gaya musik Yovie Widianto menjadi salah satu inspirasiku dalam bermain piano dan mencari aransemen--ini cukup menjelaskan mengapa di beberapa kesempatan pelayanan menjadi pemusik agaknya aransemennya rada ke-Kahitna-Kahitna-an. Hahaha ✌😂 "Mei, lu mau nonton Kahitna gak?", seorang teman di masa kuliah tiba-tiba mengirim pesan singkat beberapa minggu sebelum hari-H. "Wah, kapan di mana?", tanyaku. "Di SCBD Sudirman. Ini acaranya Global TV. Gue kebagian tiket gratis, cuma gue ga begitu suka Kahitna. Terus gue inget elu." Sungguh sebuah berkat tak terduga. Temanku itu kebetulan memang bekerja di stasi...
"Gue gila ya?" "Gue mengidap penyakit gangguan jiwa ya?" "Gue terlalu berekspektasi ya?" "Gue terlalu bucin ya?" "Gue terlalu baperan ya?" "Kok gue ngerasa kayak jadi orang aneh bahkan di kalangan rekan, teman, atau circle terdekat sih?" ...dan masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan membingungkan tatkala gue ngerasa apa yang gue rasakan, alami, pikirkan, itu seperti tidak relatable dengan orang-orang lain, termasuk mereka-mereka yang, gue consider , sebagai orang-orang terdekat gue. Berkali-kali sedih dan kecewa sehingga menyalahkan keadaan serta orang-orang, ternyata gue seringkali lupa bahwa gue memang diciptakan "berbeda". Yup, masing-masing kita memang tentu diciptakan berbeda satu sama lain. Kita diciptakan dengan "spek" -nya masing-masing dan gak ada satupun manusia yang identik dengan seorang manusia lainnya. Ketika gue menyadari bahwa gue memiliki kepribadian INFJ menurut alat ukur kepribadian yang...
Selasa, 9 Agustus 2022 Semua masih terasa cukup "jetlag" ketika mengalami atau melihat banyak hal terjadi dalam waktu bersamaan. Belum genap sepekan adaptasi di tempat hidup yang baru. Baru aja membuka diri untuk rekonsiliasi dengan beberapa teman dekat. Menyesuaikan ritme hidup untuk masing-masing aspek (pekerjaan, aktivitas pelayanan, berelasi sama keluarga, berproses dalam sebuah pergumulan, dan lain-lain). Semuanya kadang bikin sakit kepala karena pertanyaan yang sering muncul adalah: "Ini yang mana dulu dah yang harus gue kerjain? Mana yang harus diprioritaskan?" ...karena semuanya terlihat penting dan harus dinomorsatukan. Respon apa yang muncul pertama kali? Khawatir. --- Hari Selasa kemarin seperti biasa tiap bangun pagi di kepala gue sudah satsetsatset memikirkan rancangan life flow apa-apa aja yang perlu gue kerjakan dan urus di hari itu. Salah satu agendanya adalah meeting rutin dwi-mingguan dengan pimpinan gue jam 10 pagi . Sejak malam sebelumnya, si Me...
Anjir, beneran??? 🤣🤣🤣🤣🤣 --- Pekan lalu gue ketemuan sama salah satu kakak mentor yang (hingga saat ini) menolong gue berproses menemukan dan menggali potensi-potensi dalam diri. Sebagai perempuan muda yang terlampau sering clueless dalam hidupnya, dan juga yang terlampau sering mengemukakan narasi-narasi negatif terhadap diri sendiri, rasanya mencari tahu tentang potensi diri sendiri itu menjadi hal yang sulit sekali bagi gue. Belum lagi ditambah rasa minder, ngebanding-bandingin diri sendiri dengan orang lain, suka melihat atau memandang diri dari sudut pandang si crush ( like: "Apakah dia akan menyukaiku jika aku seperti ini-itu?" --pfftt), dan fokus yang cukup berlebihan pada aspek kelemahan diri. Jadilah, akhirnya gue meminta pertolongan orang lain untuk membantu gue bisa menilai dan melihat diri secara lebih obyektif. Bersyukur banget ternyata orang-orang kayak mentor, psikolog atau terapis atau konselor atau apapun itu namanya, dikasih karunia khusus untuk bisa ba...
"Nggak usah takut salah dulu. Kita pasti salah." Sebuah encouragement terhadap diri sendiri bahwa...ya ngapain takut salah ketika ketakutan itu membatasi ruang gerak kita untuk melangkah dan berkarya. Maju aja dulu. Berkarya aja dulu. Along the way pasti akan ada kesalahan toh? Setidaknya, udah melangkah. Daripada gak bikin apa-apa. (Meista, dari balik meja 😅🤣)
(kiri ke kanan: Aufa, Tasia, Veve, Meista) Siapa yang nyangka bahwa persahabatan bisa tercipta hanya gara-gara ngerjain tugas bersama? Kami sih gak nyangka 😁 Perkenalkan teman-teman saya: Rina Nur Aufa Arifin (Aufa), Anastasia Woro Ayu Pangastuti (Tasia), dan Verina Haifa Hasanah (Veve). Kami berempat bukan geng nero atau sekelompok cewek-cewek yang mengaku dirinya bersahabat kemudian beli gelang samaan supaya keliatannya kompak kok. No . Kami cuma sekelompok (yang tadinya) mahasiswi yang punya hasrat tinggi di bidang perfilman atau per-video-an. Kami adalah (mantan) mahasiswi Industri Kreatif Penyiaran, sebuah peminatan yang mengarahkan kami bagaimana menjadi insan kreatif di industri audio-visual non-berita (kalo yang industri audio-visual berita masuk ke peminatan Jurnalisme). Salah satu mata kuliah yang harus kami ambil adalah Produksi Video . Waktu itu dosen kami, Bang Sam Sarumpaet, memilih 7 orang yang ide ceritanya paling bagus untuk jadi sutradara sekaligu...
Comments
Post a Comment
Thank you for your comment! :D